Rahasia Kebangkitan Umat
Sebuah kebangkitan mutlak memerlukan kesiapan sekaligus permulaan yang cukup mengagetkan. Jika kita analogikan dengan sebuah kelahiran seorang anak manusia, tentu kelahiran tersebut tidak datang begitu saja, tapi selain memerlukan sebuah proses minimal sembilan bulan untuk mencapai wujud kelahiran yang sempurna, ia juga hampir menyisakan rasa nyeri bagi rahim yang mengandungnya. Demikianlah, analogi sebuah kebangkitan, yang tidak lain ia adalah sebuah bentuk dari kelahiran baru.
Kebangkitan bukan suatu hal yang gratis, tapi ia harus diperjuangkan, dan membutuhkan prasyarat yang mutlak diwujudkan. Jika analogi umat Islam ibarat satu raga, maka sesungguhnya apa yang diderita oleh muslim di belahan dunia yang lain, hakekatnya juga didera oleh sebagian muslim lainnya. Kita bisa lihat sekarang, hampir ada kesepakatan,
problem umat saat ini adalah tiga hal, yaitu, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
Kalau kita bertanya, kenapa hampir tidak ada dunia muslim dewasa ini yang tidak terjangkit tiga penyakit tersebut. Barangkali jawabannya, cukup jelas, bahwa sesungguhnya raga kita sekalipun terpisah-pisah hakekatnya adalah satu. Jika yang satu terkena penyakit, maka yang lain akan ikut terjangkit, contohnya, jika yang satu menderita ektresme, radikalisme, fundamentalisme, maka yang lain akan ikut terserang,
atau jika yang lain terkena penyakit liberalisme, sekularisme, pluralisme, maka yang satu pun akan ikut terkena. Maka munculnya kesadaran untuk melakukan perubahan sebagai era kebangkitan baru umat, hakekatnya adalah mengenali lebih dulu hipotesa jenis-jenis penyakit tersebut, barulah setelah itu harus ada terapi mengobatinya, lalu mempertahankannya untuk selalu konstan
Ada banyak faktor dalam mengukur suatu gejala kebangkitan, paling tidak terdapat empat hal yang patut kita renungkan. Pertama, adanya kondisi yang tidak mungkin lagi dipertahankan (satus-quo), kedua, munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi lebih berperadaban, ketiga, kesiapan untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban tadi dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. Dan keempat, menjadikan human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi munculnya sebuah kebangkitan yang lebih inovatif di masa mendatang.
Ada baiknya kita tengok ke empat hal tadi secara satu persatu. Yang pertama: adanya kondisi yang tidak mungkin dipertahankan, maksudnya; perubahan kondisi meniscayakan sebuah sebab komunal atau yang dirasakan secara nyata untuk dibenahi, akibat kondisi status-qou yang telah memperparah deretan keterpurukan suatu umat. Kondisi status-quo inilah yang sesungguhnya kita sebut sebagai kondisi tidak mungkin kita pertahankan.
Ranah yang terjangkit bisa pada politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial.
Nah, Kalau kita membaca kembali secara seksama lembaran sejarah bangsa-bangsa terdahulu,
akan kita dapatkan betapa bangsa yang mulai menata atau tergugah untuk menata nasibnya,
harus terlebih dahulu mendasarkan pijakannya pada realitas faktual kebangkrutan-kebangkrutan yang mereka alami saat itu. Ambil saja contohnya, kisah-kisah perjuangan yang dilakukan oleh para al-Anbiya sebelum Nabi Muhammad Saw, selalu membawa spirit kebangkitan dan perubahan, setelah mereka melihat berbagai kebangkrutan multidimensional dalam masyarakat yang mereka hadapi.
Nabi Syuaib AS, mencoba melakukan perombakan total dalam bidang ekonomi, setelah menyerap sekian bobroknya praktek ekonomi pada masyarakatnya ketika itu, ia secara berani menyampaikan pesan Tuhan dengan menawarkan perbaikan-perbaikan di bidang ekonomi,
melalui transformasi konsep keadilan, kesamarataan dan kejujuran dalam berekonomi.
Demikian juga Nabi Musa yang rela berpisah dari kehidupan yang penuh kegermelapan dunia,
dengan menghirup kemegahan fasilitas tinggal di istana Fir'aun, dan lebih memilih hidup sebagai pecundang namun terhormat dalam kaca mata Tuhan-Nya. Ia tidak takut melakukan perombakan tradisi yang telah dianggap melawan arus ketika itu. Seperti arus perbudakan yang merupakan sebuah fenomena sosial dan politik sekaligus sebagai budaya yang berkembang saat itu, penindasan kalangan yang kuat terhadap yang lemah, berikut penghargaan atas kemanusiaan manusia yang sama sekali tidak ada ketika itu, membuat Musa yang hanya bermodalkan keyakinan akan janji Tuhan-Nya, berani menentang kondisi yang diskriminatif tersebut. Demikian pula Isa AS, yang memilih hidup bersama kalangan-kalangan yang tertindas oleh kediktatoran kerajaan Romawi yang kemudian bakal menghukum dengan ancaman menyalibnya. Kebengisan dan kebencian yang dilakukan oleh penguasa Romawi terhadap kalangan yang menentang kebijakannya telah mengarah kepada pembunuhan karakter manusia yang seharusnya dihargai, tidak ada lagi kasih sayang dan cinta kasih pada diri penguasa-penguasa tadi. Maka Isa al-Masih dengan modal firman Tuhan-Nya berani menentang tirani tersebut, sehingga ia harus pasrah mati di tiang gantungan menurut para pengikutnya. Termasuk perlawanan Muhammad Saw dan ketegasannya menolak sistem sosial dan budaya yang tidak lagi menghargai persamaan gender, tindakan diskriminatif antar ras dan suku begitu menonjol sehingga mengakibatkan ketidakadilan dalam banyak tatanan sistem sosial yang berlaku kemudian. Matinya rasio dalam menuhankan sesuatu yang tidak lebih mulia dari manusia kepada penuhanan secara total kepada Tauhid.
Adalah merupakan contoh perubahan yang didasari pada kondisi yang berlaku dan tidak dapat lagi dipertahankan. Dengan mengetahui kondisi-kondisi tersebut, barulah akan ada sasaran target perubahan yang terfokus dan tidak terfragmentasi.
Faktor kedua; munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi lebih berperadaban.
Kondisi yang tidak bisa dipertahankan tadi, merupakan faktor pendorong perubahan selanjutnya. Maka hakekatnya tanpa adanya kesadaran melakukan perubahan sama halnya dengan meratapi nasib buruk tanpa mengambil langkah kongkrit untuk memperbaikinya. Pada konteks inilah menjadi penting sebuah proses transformasi global. Artinya; reformasi ke arah kondisi yang lebih baik, harus dimulai dari sekelompok agen pemikir yang memiliki komitmen ketulusan berbuat demi maslahat umat, dan sekelompok itu terdidik melalui sebuah pengalaman dari keberhasilan-keberhasilan kelompok manusia lainnya yang betul-betul telah teruji secara sejarah.
Penting pula kita renungkan, akan adanya polemik boleh tidaknya umat Islam mengadopsi nilai dan tatanan hidup dari bangsa lainnya dalam meraih sebuah kemajuan duniawi.
Sekelompok umat menentang hal ini, dengan alasan bahwa meniru pola hidup dan tata nilai dari luar Islam, sama halnya dengan mengakui superioritas non-Islam atas Islam itu sendiri. Sedangkan firman Allah selalu mengatakan, sesungguhnya hanya Islam lah agama yang paling mulia, maka barangsiapa yang mencari kemuliaan di luar jalan Islam hakekatnya ia tengah menuju jurang kenistaan. Padahal jika kita teliti secara seksama dari sumber-sumber otentik Islam, begitu banyak ajaran berikut anjuran kepada umat ini untuk selalu menemukan inovasi yang baru bagi kemaslahatan umat dari manapun saja asalnya. Galian parit saat perang khandaq, perintah mempelajari bahasa asing bagi kepentingan diplomasi, pendirian kantor-kantor administratif, pembuatan kitab undang-undang sipil dan perdagangan, dll, merupakan diantara contoh betapa umat Islam dulu begitu terbuka menerima nilai-nilai positif "luar" selama ia mengandung maslahat bagi umat sendiri. Justru kelemahan umat sekarang, dengan segenap perasaan inferioritasnya atas bangsa "luar", semakin memperdalam sikap ekslusifitasnya, sehingga muncul kepasrahan untuk cukup dengan apa yang dimiliki oleh dunia Islam, lalu membudayalah sikap anti pati atas dunia luar, dan keengganan mengambil nilai-nilai positif darinya .Sungguh suatu pola interaktif yang sangat bertolak belakang dengan tradisi yang kita miliki dulu
Faktor Ketiga, kesiapan seluruh elemen untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban tadi dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. layaknya mempersiapkan sebuah kelahiran baru, maka segala kebutuhan dan apa yang menjadi talian ikatan atasnya harus telah dipersiapkan. Jika dalam konteks kebangkitan umat, maka orientasi perubahan tidak boleh hanya terbatas pada destruction of evil power, tetapi juga construction of good power..Inilah tugas dan kewajiban para pembaharu yang paling penting. Sekali lagi,
bahwa perubahan, reformasi, pembaharuan atau revolusi sekalipun, tidak berorientasi jarak dekat, atau kebutuhan sesaat, sebab jika demikian, gerakan itu lambat laun akan mati suri.
Adapun faktor Keempat: menjadikan human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi munculnya sebuah kebangkitan yang lebih inovatif di masa mendatang. Pada tahap ini, yang menjadi stressing adalah melakukan proyek human investment untuk mengawal langgengnya perubahan tersebut. Dapat kita lihat sebuah negara yang konsen terhadap peningkatan fasilitas human resources melalui agenda education for all umpamanya, merasa lebih siap membuka diri terhadap setiap perkembangan dan inovasi-inovasi baru. Ketertinggalan mayoritas umat kita, diantaranya dapat dilihat dari aspek ini. Betapa lemahnya fasilitas intelectual enrichment yang kita miliki, sementara iklim sosial-politik tidak selalu berpihak pada penghargaan atas proses daya cipta yang baru, bahkan seakan suatu pembaruan dianggap sebagai sebuah tindakan anti kemapanan yang lacur dilabelkan sebagai musuh stabilitas.
AKHIRNYA, langkah yang lebih tepat untuk memulai perubahan adalah dengan melihat kebutuhan-kebutuhan local kebangsaan, menguasai permasalahan-permasalahnya, menemukan aspek tantangan dan peluangnya, menggugah civilitas melakukan pencarian solusinya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin kerjasama global intra-bangsa melalui frame work keumatan guna mengais kemaslahatan hidup sebagai pemakmur dunia. Paling tidak kita masih punya keyakinan, kalau dunia ini tidak akan diserahkan kepada orang-orang rendah iman dan lemah kualitas kerjanya. Yang menjadi persoalan, apakah modal keimanan kita saat ini telah mampu menggugah etos kerja yang lebih baik, ataukah kerja kita selama ini telah didasari oleh rasa iman kita pada hukum alam yang tidak pernah pilih kasih itu.
Pada akhirnya, sebuah kebangkitan umat sekalipun ia menyimpan rasa sakit pada awalnya,
ia mutlak mensinergiskan seluruh kecerdasan dan potensi umat, ialah kerjasama kolektif yang selalu berdimensi sosial, yang selalu bertolak dari kepentingan "kita" bukan lagi "Aku," bergerak secara pasti menyentuh harapan komunal bukan lagi individual, dirasakan hasilnya bukan hanya secara regional namun juga kawasan bahkan multilateral. Dengan melandasi kebangkitan umat seperti ini, insya Allah kita semakin yakin bahwa Islam benar-benar dapat menjadi (rahmatan lil 'alamin); rahmat bagi semesta alam. Insya Allah,
kita pasti bisa.
Oleh Ustadz Muladi Mufhni, Lc
<Sent via BlackBerry® Curve>
No comments:
Post a Comment